Dinkes Papua Barat Kampanyekan Penyakit Kusta, Ini Gejala dan Faktor Risiko Penularan

0
Seorang pegawai Dinas Kesehatan membagikan kipas yang berkampanyekan cara mencegah penyakit kusta di lampu merah Hj Bauw, Manokwari, Papua Barat. (Foto:RED/ON).
Orideknews.com, MANOKWARI – Dinas kesehatan Provinsi Papua Barat kampanyekan setop diskriminatif, kenali, dapati dan obati sampai sembuh. Kampanye ini dilakukan dalam rangka peringatan hari Kusta sedunia pada tanggal 27 Januari 2019.
Pantauan www.orideknews.com Senin, (28/1/2019) di lampu merah Hj Bauw Wosi Manokwari sekitar pukul 9.10 hingga 10.00 WIT, pegawai dinas kesehatan Provinsi Papua Barat membagikan kipas yang bertuliskan Ayo temukan bercak, kusta temukan dini, tidak ada cacat, tidak ada stigma dan diikuti dengan gambar orang berpegangan tangan. Kemudian dibalik kipas itu, tertulis jadikan keluarga sebagai penggerak pencegahan penyakit yang disertai gambar ciri-ciri penyakit kusta.
Ratusan kipas yang bertuliskan kampanye kusta itu habis dibagikan ke pengendara yang melintasi area tersebut.
Kepala dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat, Otto Parorongan, SKM.,M.Mkes dalam keterangannya mengakui gejala dan tanda kusta tidak nampak jelas dan berjalan sangat lambat.
Seorang pegawai Dinas Kesehatan membagikan kipas yang berkampanyekan cara mencegah penyakit kusta di lampu merah Hj Bauw, Manokwari, Papua Barat. (Foto:RED/ON).
“Bahkan, gejala kusta bisa muncul 20 tahun setelah bakteri berkembang biak dalam tubuh penderita,” jelas Otto.
Dijelaskan Otto, gejala kusta beberapa diantaranya adalah mati rasa, baik sensasi terhadap perubahan suhu, sentuhan, tekanan ataupun rasa sakit. Muncul lesi pucat dan menebal pada kulit, muncul luka tapi tidak terasa sakit, pembesaran saraf yang biasanya terjadi disiku dan lutut, kelemahan otot sampai kelumpuhan, terutama otot kaki dan tangan.
Tidak hanya itu, Otto juga menyebut gejala kusta akan terlihat pada kehilangan alis dan bulu mata, mata menjadi kering dan jarang mengedip serta dapat menimbulkan kebutaan, hilangnya jari jemari, kerusakan pada hidung yang dapat menimbulkan mimisan, hidung tersumbat atau kehilangan tulang hidung.
Seorang warga menunjukan kipas yang tertulis ajakan pencegahan penyakit kusta.
“Bakteri Mycobacterium leprae penyebab kusta ini tumbuh pesat pada bagian tubuh yang bersuhu lebih dingin seperti tangan, wajah, kaki dan lulut. M.leprae termasuk jenis bakteri yang hanya bisa berkembang di dalam bebepa sel manusia dan hewan tertentu,” ucapnya.
Cara penularan, kata Otto diduga juga melalui cairan dari hidung yang biasanya menyebar ke udara saat penderita batuk ataupun bersin lalu dihirup orang lain.
“ kebanyakan kasus kusta dapat didiagnosis berdasarkan temuan klinis berupa kelalaian bercak pucat atau merah pada kulit yang mati rasa dan penebalan saraf,” ungkap Otto.
Dijelaskannya bahwa, cara pengobatan kusta adalah dengan diberikan kombinasi antibiotic selama 6 bulan hingga 2 tahun. “ Jenis, dosis, dan durasi penggunaan antibiotic berdasarkan jenis kusta dan obatnya,” beber Otto seraya mengatkan obat kusta digratiskan oleh Pemerintah.
Foto bersama usai kampanye kusta.
Walaupun obat kusta disediakan gratis oleh Pemerintah. Namun, ia mengakui gerakan terpadu memberikan informasi penyakit kusta terutama didaerah endemic adalah langkah penting dalam mendorong para penderita untuk memeriksakan diri dan mendapatkan pengobatan.
“ Perlu kesadaran kita semua bahwa penyakit ini bukan penyakit hukuman atau kutukan yang diberikan kepada penderita karena dosa atau kesalahan. Tapi penyakit ini disebabkan oleh bakteri,” beber Otto.
Diakhir keterangannya, Otto mengingatkan bagi warga untuk memaknai hari kusta se-dunia pada tahun 2019 dengan Setop diskriminasi dan mengucilkan penderita kusta. “ kenali tanda kusta pada diri dan keluarga kita, jika ada tanda, segera ke layanan kesehatan terdekat. Jika itu dilakukan maka dengan sendirinya membantu membebaskan kusta di Tanah Papua,” harapnya. (RED/ON)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here