Kodam Cenderawasih Sebut Laporan Amnesty Internasional Fitnah

0
Kapendam XVII/Cenderawasih, Kolonel Inf M. Aidi
Orideknews.com, JAYAPURA – Kodam XVII/Cenderawasih menyebut lembaga pemantau hak asasi Amnesty International soal 100 warga papua tewas di tangan aparat merupakan fitnah. Laporan Amnesty International itu pun dianggap terlalu mengada-ada.
“Kalau Anda mengatakan TNI menembaki orang tak berdosa di Papua tanpa sebab dan proses hukum, itu fitnah. Semua yang terjadi ada sebab, yaitu separatis yang melawan kedaulatan negara. Itu penyebab utama,” kata Kapendam XVII/Cenderawasih Kolonel Inf Muhammad Aidi.
Sebelumnya Amnesty International mengklaim mengumpulkan data berbasis wawancara korban luka dan keluarga yang sanak familinya kehilangan nyawa. “Itu kan sangat tidak mendasar dan bersifat sepihak. Kami tidak ditanyakan juga oleh mereka,” kata Aidi.
TNI menganggap korban jiwa yang selama ini muncul merupakan ekses dari aksi separatis dan yang kehilangan nyawa, bukan hanya anggota kelompok bersenjata, tapi juga tentara dan polisi.
Ia mempertanyakan pernyataan Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid yang menyebut sebagian pembunuhan warga sipil oleh aparat bermotif balas dendam. Merujuk laporan Amnesty International, 56 dari total 95 kematian warga sipil di Papua dalam periode Januari 2010 hingga Februari 2018, tidak berkaitan dengan aktivitas politik.
Di luar itu, pembunuhan berencana terhadap aktivis prokemerdekaan Papua juga dituduhkan kepada polisi dan tentara. “Namun, faktanya, setiap saat korban kecelakaan, korban perang suku, dan lalin-lain mereka upload ke berbagai media bahkan sampai internasional dengan menuding bahwa itu adalah korban kekejaman aparat TNI-Polri. Ini tidak adil,” kata Aidi.
Menurut Aidi setiap insiden yang terjadi di Papua selalu disoroti hanya dari akhir kejadian di mana jatuh korban, tetapi oleh pihak LSM termasuk Amnesty International tidak pernah mau jujur mengungkap proses kejadiannya dan akar permasalahannya.
Ia memberi contoh kasus Paniai Desember 2014 yang selalu digembor-gemborkan hanya tentang jatuhnya korban. “Kenapa, tapi tidak pernah dibahas bagaimana ketika ribuan orang bersenjata panah, tombak, golok, bahkan ada yang membawa senjata api menyerang pos aparat keamanan. Aparat keamanan berusaha membela diri bertindak tegas sehingga akhirnya harus ada yang jatuh korban.” Jelasnya.
Menurut dia akar perseoalan yang paling hakiki di Papua adalah adanya sekelompok orang yang mengangkat senjata secara ilegal dan merongrong kedaulatan Negara dan menuntut merdeka dari NKRI.
Sebelumnya dalam laporan yang berjudul, ‘Sudah, Kasi Tinggal dia Mati’ yang diluncurkan dibeberapa kota di Indonesia termasuk Jayapura Papua pada hari Senin (02//07/2018).
Pembunuhan dan Impunitas di Papua, Amnesty International menggambarkan bagaimana aparat kepolisian dan militer menembak mati aktivis kemerdekaan dan demonstran yang berunjuk rasa secara damai.
Juga ada puluhan warga Papua lainnya yang tidak ada kaitannya dengan gerakan separatisme, termasuk di dalamnya seorang pemuda yang mengalami gangguan jiwa. “Penelitian kami menemukan bahwa hampir 100 orang telah dibunuh di luar hukum dalam kurun waktu kurang dari delapan tahun. Artinya sekitar satu orang dibunuh setiap bulannya,” ujar Usman. (ABE/ON)
Baca Juga :  Pemain Muda Asal Sarmi Papua Ini, Diberi Kepercayaan Berlatih di Timnas

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here