Mawar Hitam yang Satu Persatu Berguguran

0
Black Brothers
Oleh : I Ngurah Suryawan (Dosen Jurusan Antropologi, Fakultas Sastra dan Budaya, Universitas Papua (UNIPA) Manokwari, Papua Barat
Mawar Hitam
Yedi Awom
Serumpun mawar hitam
Terpencar jauh dari tanah semaiannya
Mekar mewangi sepenjuru negeri
Nikmat aromanya tlah tersebar
Membau memori yang tak lekang waktu
Mawar hitam itu melegenda
Sayang disayang
Kini layu sesudah masanya
Satu persatu jatuh berguguran
Setangkai demi setangkai
Rindu dibawa pulang
Ditanam sekali lagi untuk selamanya
Hanya di tanah asalnya
Karyanya melebur dengan tenang
Menggembur, menyubur taruk baru.
Puisi itu dibawakan oleh dosen cum seniman Iriano “Yedi” Awom untuk mengenang kepergian Stevie Mambor, personil grup musik Black Brothers (BB). Akar yang menjalar kuat dari BB dengan lagu-lagunya menjadi salah satu ikon kebudayaan populer yang tak terbantahkan di tanah Papua. Kini, setelah memutuskan meninggalkan ketenaran dan merantau di negeri seberang, satu-persatu “mawar hitam” yang mewangi dan melegenda itu berguguran, setangkai demi setangkai. Namun, jauh di relung-relung sanubari orang-orang Papua, bait-bait lagu BB mewakili perasaan bekecamuk mereka terhadap keadilan, penderitaan, dan ketegaran pada prinsip kehidupan. Semuanya tidak akan lekang dimakan waktu.
Andy Ayamiseba, pendiri sekaligus manajer BB dengan tajam mengungkapkan bahwa BB bukanlah grup musik biasa. BB adalah band yang mempunyai prinsip dan misi dalam bermusik. Keseluruhan visi tersebut terekspresikan dalam syair-syair lagu BB yang sarat makna sekeligus tajam dalam mengkritik berbagai persoalan sosial yang terjadi di sekitar mereka. Berbagai keputusan-keputusan yang diambil oleh grup ini menunjukkan sikap mereka yang diekspresikan dalam bermusik. Andy Ayamiseba mengungkapkan:
Black Brothers memiliki misi bermusik untuk mengangkat harkat dan martabat bangsanya (Papua) yang selalu dibilang masih terkebelakang. Visi dan misi kedua adalah menciptakan masyarakat yang adil dan sejahtera serta yang ketiga dan maha penting adalah untuk membebaskan bangsanya dari segala bentuk penindasan dari kaum penjajah (Tabloid Jubi, 12 Maret 2014).
Keteguhan prinsip dan visi bermusik itulah yang melegenda dari BB. Saat beberapa personilnya gugur, ingatan mereka kembali menuju masa kejayaan BB yang beberapa lagunya melantunkan kepedihan dan penderitaan rakyat Papua. BB dengan karya-karyanya menjadi oase kerinduan rakyat Papua dan penggemarnya akan hadirnya karya musik yang mencerminkan kejujuran mengungkapkan realitas sosial di tengah masyarakat. Meninggalnya alm. Stevie Mambor menjadi momentum mengembalikan ingatan masyarakat kepada karya-karya BB dan menggalang solidaritas penghormatan terhadapnya.
Seperti yang terjadi pada Senin malam (7/05/2018) di kota Manokwari, di sebuah café sederhana, seorang kolega berbisik saat kami sama-sama mendengarkan lagu-lagu band legendaries ini. ”Bagi orang Papua, entah mengapa e, lagu-lagu Black Brothes membuat kami bergetar,” ungkapnya. Ia melanjutkan selain grup musik Mambesak yang mewakili music folk Papua, Black Brothers dan Persipura adalah ikon kebudayaan yang terkenal luas dan mendapatkan tempat di hati orang Papua.
Masa-masa di tengah represi kebudayaan masa rezim otoritarian Orde Baru, ekspresi kebudayaan modern dipangkas agar apolitis terhadap struktur penindasan yang terjadi di tengah masyarakat. Stabilitas sosial politik menjadi “harga mati” untuk menjamin pelaksanaan pembangunan. Ekspresi kebudayaan Papua bagai hantu yang menakutkan bagi kekuasaan. Album kedua “Derita Tiada Henti” dengan lagu hits “Hari Kiamat” dilarang oleh pemerintah untuk ditayangkan di TVRI. Meski demikian album tersebut menjadi album tersukses dari Black Brothers selama berkarir music dari tahun 1976 hingga 1979.
Saya bersama masyarakat Papua di Kota Manokwari malam itu larut bersama lagu-lagu kenangan dari Black Brothers, termasuk bersenandung bersama menyanyikan “Hari Kiamat”. Kami bersama-sama mengenang alm. Stevie Mambor, penggebuk drum band legenda Papua tersebut yang meninggal dunia karena sakit di Canberra, Australia pada Rabu, 18 April 2018. Beberapa lagu-lagu Black Brothers dibawakan oleh para seniman yang menamakan diri mereka Solidaritas Seniman Manokwari (SSM) secara spontan. SSM sendiri adalah komunitas kelompok seniman dan budayawan yang dikoordinasi oleh Anton Krey, Adolof Tapilatu, Samuel Wambrauw, Iriano Awom, Vallen Baransano untuk menyebut beberapa nama. Komunitas ini juga terinspirasi oleh lagu-lagu BB. Di ujung café, layar besar memancarkan foto lima personil BB dengan gaya khas pemuda tahun 1970-1980-an dengan rambut panjang dan celana cut bray. Di atasnya tertuliskan salah satu lagu hits mereka berjudul “Derita Tiada Akhir”.
Lagu ‘Derita Tiada Akhir” adalah judul lagu yang juga merupakan tajuk album kedua mereka. Lagu ini diciptakan oleh Yochy Patipeiluhu. Liriknya menyibak pilu yang dialami rakyat Papua pada masa-masa awal kekuasaan Orde Baru terbentuk.
Derita Tiada Akhir
Cipt : Yochy Patipeiluhu
Vocalis: Hengky MS
Mengapa ini harus terulang kembali
Terluka lagi, tersiksa lagi
Haruskah derita yang selalu ku alami
Di dalam hati tiada akhir
Di mana lagi kan ku jelang
Di mana lagi kemana lagi
Di mana lagi kan ku cari
Penghibur hati ini
Oh Tuhan….
Jauhkanlah diri hamba ini
Dari derita dari sengsara
Semoga bahagia selalu di dalam hati
Tiada derita tiada sengsara
Di mana lagi kan ku jelang
Di mana lagi kemana lagi
Di mana lagi kan ku cari
Penghibur hati ini
Bergantian seniman-seniman di Kota Manokwari menyanyikan lagu-lagu Black Brothers atau lagu lainnya malam itu. Selain itu, kotak donasi juga disebar kepada pengunjung yang ingin memberikan sumbangan untuk membantu keluarga dalam proses pemakaman nantinya. Sampai pada akhirnya tiba giliran Pieter Mambor, adik kandung Stevie Mambor diundang ke atas panggung untuk menyampaikan kesaksiannya. Pieter dikenal juga sebagai seniman di Kota Manokwari mengikuti jejak kakaknya. Ia mengisahkan pada masa kecilnya Stevie sudah memperlihatkan bakatnya di bidang musik, khususnya alat musik drum. Ia mengumpulkan kaleng-kaleng bekas untuk diikat dengan karet menjadi alat musik yang kemudian dia coba mainkan sesuai dengan irama yang didengarnya.
Keluarga Mambor berasal dari Wondama, namun sempat menetap di Serui dan terutama tinggal di Manokwari. Di kota inilah Stevie memiliki lingkungan pergaulan dan melatih bakat bermusiknya secara otodidak. Stevie Mambor adalah putra Wondama (Kabupaten Teluk Wondama) kelahiran tahun 1955. Ia mulai bermain drum sejak usia 6 tahun. Stevie menggeluti dunia musik dengan bermain drum di beberapa grup music hingga bergabung bersama Black Brothers. Pada tahun 1950-1960-an, grup-grup musik tumbuh subur dan mengisi tempat-tempat hiburan di Jayapura memainkan musik-musik berirama rock, rock and rool, hard rock, jazz, blues, pop, hingga ke music keroncong.
Stevie Mambor adalah anak Manokwari bersama dengan Benny Betay. Keluarga besar Stevie Mambor tinggal di Manokwari. Oleh sebab itulah jenazah Stevie Mambor dikirimkan dari Canberra untuk dimakamkan di Manokwari. Andy Ayamiseba, manajer dan pendiri Black Brothers membenarkan itu dalam pengumumannya di media sosial Facebook (8 Mei 2018):
Kepada para penggemar dan masyarakat umum, terutama masyarakat Manokwari bahwa rencana tiba jenazah putra kabanggaan Manokwari, Almarhum Stevie Mambor, drummer ternama Black Brothers akan tiba di Rendani Airport Manokwari pada hari Sabtu pagi,12 Mei 2018 untuk dimakamkan di kota asalnya. Kepada para sponsor dan pemusik jalanan serta KBRI di Canberra yang membantu memungkinkan pemulangan jenazah almarhum kami mengucapkan terimakasih yang tak terhingga. Jenazah akan diantar oleh saudara sekotanya Benny Bettay, bassit Black Brothers bersama istri, Silpha Ayamiseba Bettay. Errol Ayamiseba, putra saya mewakili saya selaku manager Black Brothers. Rosa Rumwaropen, putri almarhum Agust Rumwaropen, gitaris Black Brothers mendampingi putra almarhum Melkiano Gardel Mambor. Bilamana ada perubahan jadwal penerbangan akan diberitahukan lebih lanjut kepada keluarga sdr. Pieter Mambor untuk diumumkan.
Pieter Mambor mengenang kakaknya sebagai orang pekerja keras dan teguh dengan prinsip. Malang melintang di dunia music Jayapura, mengeyam asam garam dan bergaul dengan berbagai karakter musisi, membentuk karakter Stevie Mambor yang kuat dan bertalenta dalam bermusik. Bahkan Pieter Mambor menyebutkan bahwa kakaknya adalah orang Papua pertama yang memegang alat musik drum dan menjadi inspirasi bagi anak-anak muda Papua untuk mengikuti jejaknya. Pieter sangat mengharapkan kelahiran drummer-drummer anak Papua yang bisa mengikuti jejak Stevie Mambor.
Kelahiran band Black Brothers hingga meraih masa jayanya penuh dengan lika-liku. Alkatiri dkk (2011: 20-23) meletakkan pondasi penting untuk lebih mendalami dinamika perjalanan bermusik Black Brothers. Cikal-bakalnya adalah modernitas yang melanda tanah Papua, khususnya kota urban Jayapura pada akhir tahun 1950-an. Grup-grup band bermunculan untuk menunjukkan penampilan di tempat-tempat hiburan yang mulai tumbuh ketika itu. Gagak Hitam adalah nama grup awal beraliran Hawaian yang kemudian bermetamorfosa menjadi Blue Boys dengan memainkan alat band lengkap.
Pada tahun 1960-an, perkembangan grup-grup music semakin pesat di Jayapura. Blue Boys semakin dikenal namun memilih untuk berganti nama menjadi Sombar Hitam dengan perombakan personil. Sombar hitam kemudian berganti nama lagi menjadi Aitumeri. Baru pada tahun 1970-an, Mimi Fatahan kemudian merubah nama grup menjadi Los Irantos Primitif. Pada tahun 1974 inilah cikal bakal lahirnya grup yang melegenda ini. Nama Black Brothers sendiri lahir setelah mereka memutuskan untuk berjuang ke Jakarta pada tahun 1976. Sebelum masuk dapur rekaman, Andy Ayamiseba yang mengatur semua rencana tersebut merubah nama grup menjadi Black Brothers.
Tunas-tunas muda musisi Papua yang bisa menerobos Jakarta pasca keberhasilan Black Brothers sangatlah ditunggu. Talenta besar dan bakat yang luar besar adalah modal kuat. Namun, tidaklah cukup itu saja. Visi bermusik dan menjejakkan kaki pada akar (identitas) Papua sangatlah penting untuk dipikirkan. Black Brothers menyadari itu dan mengadaptasinya dalam berbagai alunan musik berbagai warna dengan lirik yang bernas. Harapan Iriano “Yedi” Awom dalam puisinya yang saya tuliskan utuh di awal esai ini menjadi penanda penting bahwa karya-karya Black Brothers melebur dengan tenang, menggembur, menyubur, dan berharap akan lahir tunas-tunas baru penerus spirit Black Brothers, saudara hitam dari tanah Papua. (***)
Baca Juga :  LP3BH Desak Gakumdu dan Bawaslu Manokwari Proses Pelaku “Penyalin” Formulir D1

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here