Tindaklanjut Komitmen ICBE, Papua Barat Lepas Rumput Laut Tujuan Surabaya

0
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Prof. Dr. Charlie D. Heatubun, M.Si
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Prof. Dr. Charlie D. Heatubun, M.Si

Orideknews.com, Manokwari, – Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Prof. Dr. Charlie D. Heatubun, M.Si mengaku, pelepasan perdana Rumput Laut Jenis Sakol (eucheuma cottonii) sebanyak 20 ton pada Selasa, 27 Oktober 2020 di Pelabuhan PT. PELINDO IV, Jl. Siliwangi Manokwari, Papua Barat merupakan tindaklanjut International Conference on Biodiversity, Ecotourism and Creative Economy (ICBE) 2018 lalu.

Menurut Prof Charlie, dari komitmen pengembangan ekonomi hijau berbasis komoditas unggulan daerah yang diamanatkan dalam Deklarasi Manokwari Hasil ICBE bahwa, Pemerintah Kerajaan Inggris berkomitmen membantu Provinsi Papua dan Papua Barat sebesar 400 Milyar dan dilanjutkan dengan pertemuan Tingkat Tinggi Investasi Hijau di Sorong dengan Program Pengembangan Ekonomi Hujau, sebagai implementator antara Inggris (UK Climate Change Unit-UKCCU) dengan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia dengan durasi tiga tahun.

Prof Charlie menyebut, produksi rumput laut yang dilepas Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan dengan tujuan Surabaya itu, adalah Rumput Laut Jenis Sakol (eucheuma cottonii) yang merupakan hasil produksi budidaya Petani Orang Asli Papua Kampung Yende, Kampung Mena dan Kampung Niap (Distrik Roon), Kampung Yembekiri, Kampung Nusorowi dan Kampung Isenebuai (Distrik Rumbepoon) dan Kampung Yomber, Distrik Yoswar Kabupaten Teluk Wondama.

“Harga rumput laut ditingkat petani di Kampung sebesar Rp. 6.000/kg dan harga jual di Surabaya sebesar Rp. 18.000,-/kg, sehingga dengan hasil 20 ton pada hari ini ada total uang beredar Rp.120.000.000,- di kampung-kampung yang disebutkan tadi,” ungkapnya.

Prof Charlie menjelaskan bahwa, pengapalan dan pelepasan perdana Rumput Laut Produksi Petani Orang Asli Papua (OAP) di Teluk Wondama adalah binaan Program Pertumbuhan Ekonomi Hijau (Green Economic Growth Programme).

Baca Juga :  Keterwakilan OAP pada IPDN Terbatas , Gubernur Dominggus dan MRPB Bahas Hal Ini

Untuk diketahui, GEG Programme Program Pertumbuhan Ekonomi Hijau Papua dan Papua Barat atau Green Economic Growth Programme for Papua Provinces-GEG adalah program kerjasama Pemerintah Inggris dan Pemerintah Republik Indonesia, dilaksanakan di bawah Unit Perubahan Iklim Inggris (UK Climate Change Unit-UKCCU) dengan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia.

Program bertujuan memberikan dukungan teknis bagi petani kecil, usaha mikro, kecil dan menengah (UKM) diminta memfokus kepada Orang Asli Papua (OAP) di Papua dan Papua Barat untuk dikembangkan supaya menjadi pengusaha tangguh. Program ini juga memberikan dukungan kepada pemerintah dalam pengelolaan pembangunan ekonomi lokal berbasis investasi hijau di Papua dan Papua Barat.

Alur Kerja GEG Pendekatan yang dilakukan adalah berupaya untuk menyambungkan aktifitas ekonomi masyarakat Papua dari hulu ke hilir. Pada kegiatan yang selama ini dijumpai bahwa rantai nilai hulu-hilir ini terputus antara usaha masyarakat Papua dengan pasar. Hubungan ekonomi ini telah diintervensi oleh para tengkulak dengan cara membeli komoditi murah pada masyarakat Papua dan menjualnya ke pasar dengan harga yang tinggi.

Selain itu, pendekatan Program juga memberikan bantuan pengetahuan dan teknis dalam bentuk: budi daya, penguatan organisasi social, pembentukan usaha kecil, akses pada pasar, negosiasi dengan lembaga keuangan serta ilmu dan ketrampilan kewirausahaan. (ALW/ON)




LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here